Haflah Al-Qur’an: Tradisi Keilmuan, Cinta Ilahi, dan Momentum Bersejarah Keluarga Besar Pusat Kampung Qur’ani

Facebook
Twitter
LinkedIn

Bandar Setia, 3 April 2026, Pusat Kampung Qur’ani Deli Serdang Sumatera Utara. Haflah Al-Qur’an bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan bagian dari tradisi panjang dalam peradaban Islam yang menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan umat. Secara historis, “haflah” berasal dari bahasa Arab yang berarti perayaan atau pertemuan istimewa.

Dalam konteks keislaman, haflah Al-Qur’an berkembang sebagai bentuk penghormatan terhadap para penjaga Kalamullah—baik dalam bentuk khataman, wisuda tahfiz, maupun momen sakral seperti pernikahan yang dibingkai dengan nilai-nilai Qur’ani.

Di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Indonesia, haflah Al-Qur’an telah menjadi simbol integrasi antara budaya lokal dan spiritualitas Islam. Tradisi ini bukan hanya memperdengarkan lantunan ayat suci, tetapi juga menjadi media dakwah, penguatan ukhuwah, dan pengingat akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dalam konteks sosial, haflah sering kali menjadi momentum penting yang menandai fase baru kehidupan seseorang—seperti pernikahan—dengan keberkahan Al-Qur’an sebagai fondasinya.

Semangat inilah yang terasa begitu kental dalam kegiatan Haflah Al-Qur’an Pusat Kampung Qur’ani, yang diselenggarakan dalam rangka pernikahan Ustadzah Putri Hasanah Hasibuan, S.Ag dan suami. Acara ini tidak hanya menjadi perayaan kebahagiaan keluarga, tetapi juga menjadi panggung syiar Islam yang sarat makna dan nilai historis.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting yang memiliki peran besar dalam pengembangan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. Di antaranya, Buya Dr. H. Sugeng Wanto, M.Ag, selaku pembina Pusat Kampung Qur’ani dan Permadani, yang memberikan sambutan penuh hikmah dan motivasi. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa pernikahan yang dibangun di atas nilai-nilai Al-Qur’an akan melahirkan generasi yang kuat secara spiritual dan intelektual.

Turut hadir pula Ustadz Untung Aulia Safri Sitorus, S.Ag, Ketua Permadani, sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai “ruh” dalam rumah tangga. Ia menegaskan bahwa keluarga Qur’ani bukan hanya tentang kemampuan membaca atau menghafal, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dihidupkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Suasana semakin khidmat dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh para qari terbaik, yaitu Ustadz Muhammad Ridwan, Ustadz Fadlan Khoiri, M.Ag dan Ustadz Agung Salim, M.Pd dan lantunan Sholawat Hadroh yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Irsyad, M.Ag dan ustadz² yang lain. Bacaan mereka tidak hanya menghadirkan keindahan tajwid dan maqamat, tetapi juga menyentuh hati para hadirin, membawa suasana yang penuh kekhusyukan dan rasa syukur.

Acara ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi haflah Al-Qur’an terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan Pusat Kampung Qur’ani. Lebih dari sekadar seremoni, haflah ini mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga, memuliakan, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.

Pernikahan Ustadzah Putri Hasanah Hasibuan, S.Ag pun menjadi simbol lahirnya keluarga Qur’ani baru yang diharapkan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Dengan iringan ayat-ayat suci dan doa dari para ulama serta jamaah yang hadir, momen ini tidak hanya menjadi kenangan indah, tetapi juga titik awal perjalanan kehidupan yang penuh berkah.

Melalui kegiatan ini, Pusat Kampung Qur’ani kembali menegaskan perannya sebagai pusat pembinaan umat yang tidak hanya fokus pada pendidikan Al-Qur’an, tetapi juga membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah. Haflah Al-Qur’an menjadi jembatan antara tradisi, ilmu, dan kehidupan, menghadirkan harmoni antara masa lalu yang penuh warisan dan masa depan yang penuh harapan.